Harga spesial, ada di telegram! Klik >>Daftar Sekarang< <

Salah Kaprah Tentang Sabar

 

Ada yang bilang bahwa:

 

“Orang yang kuat adalah yang mampu sabar dan menahan amarahnya.”

 

Lalu apa tanggapan saya?

 

Nggak ada tanggapan, pesan di atas sudah benar.

 

Ya, sabar memang berat. Hanya orang yang kuat saja yang mampu melakukannya.

 

Ngomong-ngomong soal sabar, mungkin Si Dilan akan jauh lebih berwibawa kalau dia bilang begini ke Milea:

 

“Jangan sabar, berat. Biar aku saja.”

 

Anda saja Si Milea tahu betapa beratnya sabar, pasti ia akan lebih kesengsem padanya. Jauh lebih kesengsem dari hanya jika rindu yang diungkapkan.

 

Sabar dalam penantian cinta yang halal dan diridhai Allah. Halah! Mohon maaf, mulai ngelantur.

 

Kita kembali fokus pada sabar.

 

Jadi begini saudaraku yang baik dan berbudi pekerti luhur, serta rajin cuci kaki dan gosok gigi sebelum tidur. Izinkan kali ini saya memberikan sedikit pandangan saya tentang sabar.

 

Sabar itu yang benar adalah bukannya menahan emosi negatif, melainkan menerima emosinya.

 

Sabar itu bukan melawan kejadian yang tidak menyenangkan, melainkan berdamai dengan kejadiannya.

 

Sehingga, ketika sabar, yang timbul adalah perasaan damai. Bukan sebaliknya. Bukan menahan amarah dengan sekuat tenaga, hingga menimbulkan perasaan yang jauh lebih tidak nyaman dari sebelumnya.

 

Padahal, emosi negatif yang ditahan itu sama seperti meniupkan udara ke dalam balon terus menerus.

 

Kira-kira kalau balon ditiup terus menerus apa yang akan terjadi?

 

Ya, balonnya akan pecah.

 

Sama seperti tubuh manusia. Jika terus menahan emosi negatif, lama kelamaan tubuhnya juga akan ‘pecah’.

 

Maksud pecah di sini adalah, tubuh lama-lama nggak kuat dan akan muncul penyakit fisik yang disebut sebagai ‘psikosomatik’. Yaitu, penyakit yang timbul akibat emosi negatif yang terus dipendam, dan tak kunjung dinetralkan.

 

 

Lebih lanjut soal sabar…

 

Ada sebuah lagu yang menurut saya sangat spiritual dan sangat menyehatkan untuk jiwa, yaitu lagu dari Bondan Prakoso & Fade2Black yang berjudul ‘Ya Sudahlah’.

 

Begini, kejadian yang tidak menyenangkan itu kan sudah terjadi to?

 

Lalu apa lagi yang bisa kita perbuat untuk membuat kejadian tersebut batal terjadi? Nggak ada yang bisa kita lakukan.

 

Karena sudah terjadi, ya sudahlah… Diterima saja….

 

Saya bilang begini bukan karena saya sudah master sabar, melainkan masih dalam tahap belajar dan terus mempraktekkan ilmu-ilmu sabar.

 

Saya nulis artikel ini juga sebenernya ngeri-ngeri sedap. Ngerinya adalah, kalau terus diuji kesabaran saya oleh Allah untuk membuktikan kelayakan saya dalam menuliskan tulisan ini kepada kawan-kawan.

 

Tapi tak apalah, niat saya adalah ingin berbagi. Sehingga ketika ilmu ini bisa diterima, dapat menyelamatkan banyak jiwa-jiwa manusia dari bahaya emosi negatif yang terpendam.

 

So, bagaimana menurut Anda? Sabar itu menahan emosi negatif, atau menerimanya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *